Oleh: Ir Fahuri Wherlian Ali KM, SP MM, Ketua Harian Ikaperta Unila 2024-2028.
LAMPUNG selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung jagung nasional. Namun di balik capaian tersebut, tersembunyi persoalan yang kian relevan untuk dibahas: ketergantungan berlebihan pada jagung justru berpotensi menjadi titik lemah bagi sektor peternakan daerah.
Dalam kondisi normal, kerentanan ini mungkin belum terasa. Tetapi ketika harga pupuk melonjak, pasokan bahan bakunya terganggu, dan musim kemarau datang lebih panjang, jagung berubah menjadi komoditas yang rapuh.
Ketika jagung terguncang, dampaknya menjalar cepat—dari petani ke peternak, dari pelaku usaha pakan ke pasar, hingga akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat melalui harga telur, daging, dan susu.
Di sinilah Lampung perlu melihat persoalan secara lebih strategis. Produksi tinggi saja tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem pakan ternak yang tahan terhadap tekanan global dan perubahan iklim.
Salah satu jalan yang layak dipertimbangkan adalah melalui pengembangan Indigofera.Secara nasional, produksi jagung Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berada pada kisaran belasan hingga sekitar 20 juta ton per tahun.
Dalam peta tersebut, Lampung memegang peranan penting dengan produksi yang konsisten berada di atas 2 juta ton per tahun.
Namun angka besar tidak selalu identik dengan ketahanan. Masalahnya terletak pada fungsi jagung itu sendiri. Di Indonesia, jagung bukan hanya bahan pangan, tetapi juga komponen utama pakan ternak.
Dalam formulasi pakan, jagung menyusun sekitar 45–55 persen pada ayam broiler, 40–50 persen pada ayam petelur, dan 35–50 persen pada itik. Bahkan dalam pakan ruminansia, jagung tetap digunakan sebagai sumber energi.
Dengan dominasi sebesar itu, sedikit saja gangguan pasokan akan langsung memukul biaya produksi. Sementara dalam usaha peternakan, pakan menyumbang sekitar 60–70 persen dari total biaya.
Ketika jagung naik, peternak langsung tertekan. Dan ketika peternak tertekan, harga pangan hewani ikut terdorong.
Ancaman terhadap jagung hari ini bukan asumsi, melainkan realitas yang sedang berlangsung. Tekanannya datang dari dua arah sekaligus: pupuk dan iklim.
Di tingkat global, pembatasan ekspor bahan baku pupuk oleh Tiongkok telah mengganggu rantai pasok dan mendorong kenaikan harga. Dampaknya langsung terasa pada biaya produksi jagung yang semakin tinggi.
Di sisi lain, Lampung juga menghadapi pola musim yang makin tidak menentu. Jagung sangat sensitif terhadap kekurangan air, terutama pada fase pembungaan dan pengisian biji.
Ketika kemarau datang lebih panjang, risiko penurunan hasil menjadi sulit dihindari.Kombinasi ini berbahaya. Ketika pupuk mahal dan air terbatas, produktivitas jagung tertekan dari dua sisi sekaligus.
Kondisi ini pula yang menjelaskan mengapa Indonesia, meskipun sebagai produsen besar, dalam situasi tertentu masih harus mengimpor jagung 1-2 juta ton. Impor dilakukan untuk menutup kebutuhan industri pakan ketika pasokan domestik tidak mencukupi, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.
Ini menjadi pengingat bahwa ketahanan jagung nasional belum sepenuhnya kokoh.
Saatnya Mencari Penyangga SistemDalam situasi seperti ini, Lampung tidak cukup hanya meningkatkan luas tanam atau mengejar target produksi.
Yang dibutuhkan adalah penyangga sistem, agar sektor peternakan tidak sepenuhnya bergantung pada satu komoditas.Di sinilah Indigofera zollingeriana menjadi relevan.
Tanaman ini merupakan leguminosa pohon dengan kandungan protein kasar sekitar 22–30 persen, jauh lebih tinggi dibanding sebagian besar hijauan pakan. Sebagai perbandingan, jagung hanya memiliki protein sekitar 8–9 persen, tetapi unggul pada kandungan energi.
Perbedaan ini penting. Jagung berfungsi sebagai sumber energi, sementara Indigofera sebagai sumber protein dan hijauan berkualitas. Keduanya bukan untuk saling menggantikan, melainkan untuk saling melengkapi.
Dengan pendekatan ini, Indigofera dapat berperan sebagai pengurang ketergantungan terhadap jagung, terutama dalam sistem pakan ternak rakyat.
Ada beberapa alasan mengapa Indigofera relevan untuk Lampung.
Pertama, tanaman ini relatif lebih efisien dalam penggunaan pupuk, terutama nitrogen, karena memiliki kemampuan fiksasi biologis; Kedua, Indigofera dapat dipanen berulang kali, sehingga memberikan pasokan hijauan yang lebih stabil dibanding tanaman musiman seperti jagung; Ketiga, tanaman ini cukup adaptif terhadap lahan kering dan tekanan musim, menjadikannya cocok untuk wilayah yang rentan kemarau; Keempat, bagi peternak ruminansia, Indigofera mampu menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan kualitas nutrisi ternak; dan Kelima Indigofera bisa digunakan sebagai rambatan tanaman Lada atau Cabe Jawa (integrated farming)Dengan karakter tersebut, Indigofera tidak sekadar alternatif, tetapi berpotensi menjadi bagian penting dari ketahanan pakan daerah.
Selama ini, keberhasilan pertanian Lampung sering diukur dari seberapa besar produksi yang dihasilkan. Padahal ke depan, ukuran itu perlu diperluas: seberapa kuat sistemnya bertahan dalam kondisi krisis.
Karena itu, Indigofera tidak boleh terus diposisikan sebagai tanaman pelengkap.
Pengembangannya perlu didorong secara sistematis melalui kebun pakan rakyat,integrasi tanaman dan ternak, dan pemanfaatan pupuk organik,serta penguatan peran penyuluh dan kelompok ternak.
Pendekatan ini bukan hanya soal diversifikasi, tetapi tentang membangun sistem yang lebih mandiri dan adaptif. Lampung memiliki semua modal untuk menjadi daerah yang tangguh: lahan luas, petani berpengalaman, dan posisi strategis dalam produksi jagung nasional.
Sudah waktunya Lampung melangkah lebih jauh—tidak hanya sebagai produsen jagung, tetapi sebagai daerah yang mampu membangun kemandirian pakan ternak.
Sebab di masa depan, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi oleh kemampuan bertahan ketika pupuk langka, hujan tak menentu, dan harga pakan melonjak.
Lampung tidak cukup hanya menjadi lumbung jagung. Lampung harus menjadi daerah yang mampu melindungi peternaknya dari gejolak yang tidak bisa dikendalikan.
Dan di tengah ketidakpastian global, Indigofera bukan lagi sekadar pilihan tambahan. Ia adalah bagian dari arah baru—menuju sistem pertanian dan peternakan yang lebih mandiri, lebih tahan krisis, dan lebih berkelanjutan. (*)