Selasa, 30 Jun 2026
Selasa, 30 Jun 2026

Ternyata, Konservasi Hutan Berawal Dari Keluarga

Oleh Dr.Ir. Melya Riniarti, S.P., M.Si., IPU; Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Unila dan Anggota Ikaperta Unila

Di balik kelestarian kawasan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman (Tahura WAR) di Provinsi Lampung, terdapat peran besar para perempuan yang selama ini jarang mendapat perhatian.

Tahura WAR merupakan salah satu kawasan konservasi terpenting di Lampung, dengan luas sekitar 22 ribu ha, yang membentang di wilayah Kabupaten Pesawaran dan Kota Bandar Lampung.

Kawasan ini tidak hanya menjadi rumah bagi ratusan jenis flora dan fauna, tetapi juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang memasok kebutuhan air bersih bagi sebagian besar masyarakat Kota Bandar Lampung dan wilayah sekitarnya.

Dengan kata lain, keberadaan Tahura WAR tidak hanya menentukan kelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga menopang kehidupan jutaan masyarakat Lampung melalui jasa lingkungan yang dihasilkannya.

Di sepanjang batas kawasan hutan tersebut terdapat sejumlah desa penyangga yang masyarakatnya telah hidup berdampingan dengan hutan selama beberapa generasi. Salah satunya adalah Desa Talang Mulya, tempat penelitian ini dilaksanakan.

Berlokasi tepat di tepian kawasan Tahura WAR, desa ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan hutan. Berbagai jenis tumbuhan dimanfaatkan sebagai sumber pangan, obat-obatan tradisional, bahan bangunan, hingga sumber penghasilan tambahan.

Hubungan yang telah terjalin selama puluhan tahun inilah yang melahirkan kekayaan pengetahuan lokal tentang pemanfaatan tumbuhan sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestarian hutan.

Hubungan tersebut ternyata tidak lepas dari peran perempuan. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan melalui wawancara dan survei kepada perempuan di desa tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya memanfaatkan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi penjaga pengetahuan lokal yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pemilihan perempuan sebagai informan kunci dilakukan berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan peranan penting perempuan dalam menjaga warisan ethnobotany.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik tentang berbagai jenis tumbuhan di sekitar hutan. Lebih dari 83% responden mengenal beragam tumbuhan yang ada di lingkungan mereka, sementara lebih dari 90% memahami cara pemanfaatannya, baik sebagai bahan pangan, obat tradisional, maupun untuk kebutuhan rumah tangga lainnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa pengetahuan tersebut sebagian besar diperoleh dari orang tua dan nenek moyang. Artinya, keluarga masih menjadi ruang utama untuk mewariskan pengetahuan tentang tumbuhan dan lingkungan kepada generasi berikutnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa proses belajar tentang alam tidak selalu berlangsung di ruang kelas atau melalui buku pelajaran. Bagi masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan, pengetahuan justru lahir dari pengalaman sehari-hari.

Sejak kecil, anak-anak diajak oleh orang tua untuk mengenali berbagai jenis tumbuhan, serta mengetahui mana yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, obat tradisional, bumbu dapur, hingga kayu untuk keperluan rumah tangga.

Pengetahuan tersebut diwariskan secara lisan melalui cerita, kebiasaan, maupun praktik langsung saat bekerja di kebun atau memasuki kawasan hutan.Perempuan memiliki posisi yang sangat penting dalam proses pewarisan tersebut.

Sebagai ibu sekaligus pengelola kebutuhan rumah tangga, mereka lebih sering berinteraksi dengan berbagai jenis tumbuhan yang digunakan untuk memasak, merawat kesehatan keluarga, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tanpa disadari, aktivitas sederhana seperti memasak, meramu obat tradisional, atau mengajak anak mencari tanaman di kebun dapat menjadi media pembelajaran yang efektif untuk mengenalkan kekayaan hayati kepada generasi muda.

Namun, penelitian ini juga memberi isyarat bahwa sistem pewarisan pengetahuan lokal menghadapi tantangan yang semakin besar. Perubahan gaya hidup, kemajuan teknologi, dan semakin berkurangnya interaksi masyarakat dengan kawasan hutan membuat kesempatan bagi generasi muda untuk belajar langsung dari orang tua dan kakek-nenek semakin terbatas.

Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya nama-nama tumbuhan lokal yang berpotensi hilang, tetapi juga pengetahuan tentang cara pemanfaatan, nilai budaya, serta kearifan dalam menjaga kelestarian alam.

Karena itu, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa upaya konservasi tidak cukup hanya dilakukan dengan menanam pohon atau melindungi kawasan hutan.

Melestarikan pengetahuan masyarakat yang telah diwariskan selama puluhan, bahkan ratusan, tahun juga merupakan bagian penting dari konservasi. Ketika pengetahuan lokal tetap hidup di tengah keluarga, masyarakat akan memiliki alasan yang lebih kuat untuk menjaga hutan sebagai sumber kehidupan sekaligus warisan budaya bagi generasi mendatang.

Tidak hanya menyimpan pengetahuan, banyak perempuan juga berperan langsung dalam menjaga keberlanjutan tumbuhan di sekitar tempat tinggal mereka. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden secara aktif menanam kembali berbagai jenis tumbuhan di pekarangan rumah maupun di lahan yang mereka kelola.

Bagi mereka, menanam bukan sekadar memperindah lingkungan, tetapi juga memastikan bahwa tanaman yang selama ini menjadi sumber pangan, obat tradisional, dan kebutuhan sehari-hari tetap tersedia bagi anak-anak dan cucu mereka.

Sayangnya, meskipun telah berkontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan sumber daya hayati, keterlibatan perempuan dalam program konservasi formal masih relatif terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa kontribusi mereka sering kali hadir dalam kehidupan sehari-hari, tetapi belum sepenuhnya diakui dalam kebijakan maupun kegiatan pengelolaan kawasan hutan.

Padahal, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan merupakan salah satu aktor penting dalam menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dan hutan. Mereka tidak hanya menjadi pengguna sumber daya alam, tetapi juga penjaga pengetahuan, pendidik bagi generasi muda, sekaligus pelaku konservasi di tingkat keluarga.

Oleh karena itu, upaya pelestarian kawasan seperti Tahura WAR tidak cukup hanya berfokus pada perlindungan kawasan dan rehabilitasi hutan. Program konservasi juga perlu memberi ruang yang lebih besar bagi perempuan sebagai mitra utama, misalnya melalui pendokumentasian pengetahuan lokal, pelatihan budidaya tumbuhan bernilai ekonomi dan konservasi, serta pelibatan mereka dalam perencanaan dan pengambilan keputusan di tingkat desa.

Ketika pengetahuan lokal dihargai dan perempuan diberi kesempatan untuk berperan lebih luas, konservasi tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tumbuh sebagai gerakan bersama yang berakar pada budaya dan kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, menjaga hutan berarti juga menjaga pengetahuan yang hidup di tengah keluarga, karena di sanalah benih-benih kepedulian terhadap alam pertama kali ditanam dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)

Tuliskan komtar mu disini
Tulisan Lainnya...