Oleh: Dr. Teguh Endaryanto, Akademisi Jurusan Agribisnis FP Unila, Ketua PERHEPI Lampung, Pengurus IKAPERTA Lampung
LADA merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki sejarah panjang di Provinsi Lampung. Selama puluhan tahun, Lampung Black Pepper dikenal luas di pasar nasional dan internasional.
Namun data produksi terbaru menunjukkan adanya perubahan signifikan yang patut dicermati, terutama dalam lima tahun terakhir.Data resmi Satu Data Lampung menunjukkan bahwa produksi lada pada 2020 sempat mencapai puncaknya sekitar 15.400 ton.
Setelah itu, angkanya terus menurun: 15.200 ton pada 2021, 15.000 ton pada 2022, hingga turun cukup tajam menjadi 13.900 ton pada 2023. Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi, melainkan tanda bahwa kondisi kebun lada di Lampung tengah mengalami masalah yang lebih mendasar.
Di sisi lain, harga lada justru menunjukkan tren yang meningkat. Pada 2019, harga lada hitam berada pada kisaran Rp 58.000 per kilogram. Pada 2022, harga masih relatif sama—sekitar Rp 55.000–60.000 di tingkat petani Lampung.
Namun memasuki 2024–2025, harga melonjak signifikan. Lada hitam mencapai Rp 90.000–110.000 per kilogram di beberapa wilayah, sementara lada putih meningkat bahkan hingga Rp 120.000–142.000 per kilogram di tingkat petani.Kenaikan harga ini tidak diikuti kenaikan produksi.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa penyebab penurunan ada pada aspek budidaya dan struktur kebun, bukan pada minat pasar atau keekonomian komoditas. Grafik produksi menunjukkan bahwa sebagian besar penurunan terjadi setelah 2020, ketika banyak kebun lada di beberapa kabupaten sentra mengalami tekanan hama penyakit, tanaman tua, dan kurangnya peremajaan.
Dari 15 kabupaten/kota di Lampung, terdapat enam daerah yang menjadi sentra utama lada, yaitu Lampung Utara, Tanggamus, Lampung Barat, Way Kanan, Pesisir Barat, dan Lampung Timur. Analisis produksi 2019–2023 memperlihatkan dinamika yang berbeda-beda di keenam wilayah ini.
Lampung Utara, yang selama ini menjadi sentra terbesar, tampil relatif stabil. Produksinya sempat meningkat hingga di atas 4.000 ton pada 2022, sebelum sedikit turun pada 2023. Ini menunjukkan bahwa struktur kebun di wilayah ini masih kokoh, meskipun tanda-tanda penuaan tanaman mulai terlihat.
Tanggamus menunjukkan dinamika yang paling drastis. Produksinya meningkat kuat antara 2019 hingga 2022, tetapi kemudian turun tajam menjadi 2.892 ton pada 2023—penurunan sekitar 25 persen hanya dalam satu tahun.
Fenomena ini diduga terkait serangan penyakit akar, kondisi iklim basah, serta kurangnya peremajaan pada tanaman tua.Lampung Barat juga memperlihatkan penurunan yang cukup besar. Produksi turun dari sekitar 3.320 ton pada 2019 menjadi sekitar 2.649 ton pada 2023.
Penurunan yang bertahap ini menunjukkan adanya persoalan struktural di wilayah ini, termasuk kompetisi dengan komoditas unggulan lainnya seperti kopi.
Pesisir Barat menjadi daerah dengan penurunan paling konsisten. Produksinya turun setiap tahun sejak 2019. Sebagian petani mengalihkan usaha mereka ke kopi dan kakao.
Di sisi lain, Lampung Timur menjadi daerah yang stabil dengan sedikit peningkatan, meskipun skala produksinya tidak sebesar kabupaten sentra lainnya.
Satu-satunya kabupaten yang menunjukkan tren positif adalah Way Kanan. Produksinya meningkat setiap tahun sejak 2019, dari 1.592 ton menjadi 1.825 ton pada 2023.
Hal ini menunjukkan bahwa kebun-kebun lada di Way Kanan masih cukup produktif, dengan banyak tanaman muda yang mulai memasuki fase menghasilkan.
Dari seluruh data tersebut, terlihat jelas bahwa penurunan produksi lada Lampung terutama disebabkan oleh berkurangnya produktivitas kebun di Tanggamus, Lampung Barat, dan Pesisir Barat.
Sementara itu, Lampung Utara dan Way Kanan menjadi penyangga utama produksi, dan Lampung Timur berperan sebagai daerah stabil yang dapat dikembangkan melalui pola budidaya intensif.
Penurunan produksi lada Lampung tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis seperti penyakit atau cuaca, tetapi juga oleh penurunan kapasitas SDM petani lada, khususnya di sentra-sentra yang menurun. Variabel SDM menjadi penentu apakah kebun mampu bertahan, diremajakan, atau akhirnya ditinggalkan.
Dengan meningkatnya harga lada dalam beberapa tahun terakhir, sebenarnya ada peluang besar untuk kebangkitan komoditas ini. Namun peluang tersebut baru dapat terwujud apabila dilakukan langkah-langkah peremajaan tanaman, pengendalian penyakit, serta transformasi pascapanen dan hilirisasi.
Pendekatan ini perlu dilakukan secara berbeda di masing-masing kabupaten, sesuai karakteristik dan tantangan yang mereka hadapi.
Ke depan, lada Lampung masih memiliki masa depan yang cerah apabila intervensi dilakukan secara tepat dan konsisten.
Dengan strategi yang terarah, Lampung tidak hanya dapat mempertahankan posisi sebagai salah satu produsen utama lada Indonesia, tetapi juga mengembangkan komoditas ini menjadi produk premium bernilai tinggi yang diminati pasar global. ***
Sumber data: https://opendata.lampungprov.go.id/dataset/produksi-lada-20192023#, serta berbagai sumber lainnya.