Jumat, 02 Okt 2026
Jumat, 2 Okt 2026 Kat : Berita

Agribisnis Unila Petakan Potensi Desa Pasuruan, Kelembagaan Ekonomi Diperkuat

4 menit baca
Dilihat : 4x

LAMPUNG SELATAN — Peta desa tidak cukup hanya menunjukkan lokasi. Data tersebut harus bisa menjadi pijakan untuk menentukan potensi prioritas, membangun kelembagaan, hingga menciptakan nilai tambah ekonomi.

Pesan itu menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.

Kegiatan ini merupakan lanjutan pelatihan pemetaan potensi desa berbasis koordinat geospasial menggunakan Google Maps. Jika sebelumnya peserta belajar mengidentifikasi potensi dan menentukan titik koordinat, kali ini hasil pemetaan diarahkan untuk membaca potensi prioritas sekaligus memperkuat kelembagaan ekonomi masyarakat.

Pelatihan diikuti aparatur Pemerintah Desa Pasuruan dan para kepala dusun. Kegiatan disambut Kepala Desa Pasuruan Sumali, S.M., bersama Sekretaris Desa Sugeng.Tim pengabdian diketuai Dr. Ir. Dwi Haryono, M.S., dengan anggota Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si.; Dr. Novi Rosanti, S.P., M.E.P.; Dian Rahmalia, S.P., M.Si.; dan I Ranni Mellya Sari, S.P., M.Si. Dua mahasiswa Jurusan Agribisnis juga dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Pelatihan tidak berhenti pada kemampuan memasukkan titik lokasi ke Google Maps. Peserta sebelumnya telah belajar mencatat latitude dan longitude serta menyusun informasi lokasi ke dalam basis data desa.

Objek yang dipetakan meliputi pemerintahan, UMKM, sentra pertanian, fasilitas pelayanan masyarakat, pendidikan, perdagangan hingga berbagai potensi ekonomi lainnya.

Desa Pasuruan memiliki delapan dusun dengan karakteristik berbeda. Yakni Banyumas, Jati Bening, Jati Rejo, Jati Sari, Pasuruan Atas, Pasuruan Bawah, Sendang Sari dan Sumber Sari.

Perbedaan karakter tersebut menjadi bahan pembelajaran untuk melihat potensi secara lebih menyeluruh. Bukan hanya soal apa yang dimiliki, tetapi juga siapa pelakunya, bagaimana pengelolaannya, hingga peluang peningkatan nilai tambah.

Di Dusun Banyumas, misalnya, terdapat sekitar delapan hektare sawah, budidaya lele, ayam kampung, puyuh, sapi dan kambing. Selain itu terdapat penyedia pakan ternak, pedagang makanan, warung kelontong, kerajinan tapis dan rajut, panglong kayu hingga berbagai usaha jasa.Potensi tersebut kemudian dibaca sebagai sebuah rantai ekonomi.

Peternakan dan perikanan tidak hanya dilihat sebagai kegiatan produksi, tetapi dapat terhubung dengan penyedia pakan, pengolahan hasil, pedagang makanan dan konsumen.

Sementara Dusun Jati Sari memiliki sekitar 20 hektare lahan pertanian, kegiatan perikanan yang melibatkan delapan rumah tangga dan peternakan yang melibatkan 15 rumah tangga.

Di dusun tersebut juga terdapat tiga penggilingan padi serta berbagai UMKM dan usaha jasa.

Rantai nilai komoditas padi menjadi salah satu contoh yang dibahas. Mulai dari padi, gabah, penggilingan, beras, pengemasan, merek hingga pemasaran.

Potensi serupa juga terlihat di Dusun Sendang Sari. Wilayah tersebut memiliki sawah, jagung, perikanan, peternakan dan berbagai usaha pengolahan pangan.

Salah satunya sembilan rumah tangga yang menjalankan usaha kue tampah.Ada pula usaha tempe, keripik pisang dan kembang goyang.

Potensi itu menjadi bahan diskusi untuk memperkuat kelembagaan UMKM melalui pengadaan bahan baku, peningkatan kualitas, pengemasan, katalog produk, promosi digital dan pemasaran bersama.

Di Dusun Sumber Sari, potensi sektor pangan juga cukup beragam. Terdapat sekitar 20 hektare sawah, empat hektare jagung, perikanan, lebah Trigona serta peternakan sapi, kerbau, kambing dan ayam.

Terdapat pula UMKM aneka kue, penggilingan padi serta MBG/SPPG. Kondisi tersebut menjadi bahan diskusi mengenai peluang menghubungkan produksi pangan lokal dengan kebutuhan pasar di sekitar desa.

Peta Harus Jadi Peta EkonomiTim pengabdian menekankan, pemetaan geospasial bukan tujuan akhir. Data lokasi perlu dilengkapi informasi pelaku usaha, kapasitas produksi, kelembagaan, pasar, persoalan serta peluang pengembangan.

Dr. Teguh Endaryanto mengatakan, desa perlu bergerak dari sekadar mengetahui potensi menuju kemampuan mengelolanya.

“Peta memberi tahu kita di mana potensi berada. Tetapi kelembagaan menentukan apakah potensi itu dapat dikelola bersama, dikembangkan nilai tambahnya, dihubungkan dengan pasar, dan akhirnya meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, delapan dusun di Desa Pasuruan tidak harus dipandang sebagai wilayah ekonomi yang berdiri sendiri. Pemetaan justru dapat digunakan untuk melihat hubungan ekonomi antardusun.

Wilayah produksi pertanian, misalnya, dapat dihubungkan dengan wilayah pengolahan, perdagangan dan pasar.Salah satu contohnya Pasuruan Atas. Selain memiliki kegiatan pertanian dan peternakan, wilayah tersebut memiliki sekitar 30 kios atau toko, sejumlah bengkel, kios pupuk serta Pasar Desa Pasuruan.

Dengan pendekatan itu, peserta dilatih melihat Desa Pasuruan sebagai satu sistem ekonomi yang saling terhubung.

Berujung Rencana AksiPada sesi penguatan kelembagaan, peserta diajak mengidentifikasi kelembagaan yang telah ada, pembagian peran, administrasi kelompok, kegiatan usaha, jejaring kemitraan dan keberlanjutan.

Materi menggunakan pendekatan 5K, yakni Kelembagaan, Kepengurusan, Kegiatan, Kemitraan dan Keberlanjutan.

Peserta juga diajak memilih potensi yang paling realistis dikembangkan dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, sumber daya manusia, peluang pasar dan nilai tambah.

Rangkaian pelatihan kemudian diarahkan membentuk alur:Identifikasi potensi → penitikan koordinat → pemetaan → database desa → pemilihan potensi prioritas → penguatan kelembagaan → nilai tambah → pasar → rencana aksi.

Tim berharap hasil pelatihan tidak berhenti menjadi peta atau dokumen. Data yang telah dihimpun diharapkan terus diperbarui pemerintah desa dan dikembangkan menjadi basis data ekonomi Desa Pasuruan.

Dengan begitu, data dapat menjadi pijakan dalam perencanaan pembangunan desa yang lebih berbasis kondisi dan potensi nyata di lapangan.

“Dari peta kita mengetahui potensi. Dari kelembagaan kita menggerakkan potensi. Dan dari kerja bersama, potensi desa diharapkan tumbuh menjadi nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. ***

Tuliskan komtar mu disini
Berita Terkait...

Berikan sebuah komentar