Oleh: Kusuma Adhianto, Dosen Jurusan Peternakan Unila dan anggota Ikaperta Unila
Perubahan iklim telah menjadi isu global yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem pangan. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor peternakan sering ditempatkan sebagai “tersangka utama” penyebab emisi gas rumah kaca.
Kampanye internasional untuk mengurangi konsumsi daging semakin gencar dengan alasan menekan laju pemanasan global. Narasi tersebut kemudian berkembang menjadi stigma bahwa mengonsumsi produk peternakan identik dengan memperburuk krisis iklim.
Namun, benarkah persoalannya sesederhana itu?Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa sistem peternakan global berkontribusi sekitar 12–14,5% terhadap emisi gas rumah kaca antropogenik, bergantung pada ruang lingkup dan metodologi perhitungan yang digunakan.
Emisi tersebut didominasi oleh gas metana (CH₄) hasil fermentasi enterik pada ternak ruminansia, disusul emisi dinitrogen oksida (N₂O) dari pengelolaan kotoran ternak dan produksi pakan.
Fakta ini menunjukkan bahwa sektor peternakan memang memiliki kontribusi terhadap perubahan iklim. Akan tetapi, fakta yang sering luput dari perhatian adalah bahwa sektor ini juga menyimpan peluang besar untuk melakukan mitigasi emisi melalui peningkatan efisiensi produksi.
Persoalan utama sebenarnya bukan terletak pada keberadaan peternakan, melainkan pada cara peternakan dikelola. Berbagai kajian Life Cycle Assessment (LCA) memperlihatkan bahwa intensitas emisi antarpeternakan dapat berbeda sangat besar, meskipun menghasilkan jumlah daging yang sama.
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh efisiensi penggunaan pakan, pertumbuhan ternak, kesehatan hewan, manajemen reproduksi, produktivitas, serta pengelolaan limbah.
Artinya, yang menentukan tinggi-rendahnya emisi bukanlah produk peternakannya semata, tetapi efisiensi sistem produksinya.
Di sinilah kita perlu membedakan antara jumlah emisi total dan intensitas emisi. Seekor sapi memang menghasilkan metana selama proses pencernaan.
Namun, apabila sapi tersebut tumbuh lebih cepat, sehat, dan mampu mengonversi pakan menjadi daging secara efisien, maka emisi yang dihasilkan untuk setiap kilogram daging akan jauh lebih rendah dibandingkan sapi dengan produktivitas rendah.
Dengan kata lain, produktivitas yang tinggi justru merupakan salah satu strategi penting dalam menekan jejak karbon sektor peternakan.Indonesia memiliki karakteristik peternakan yang sangat berbeda dengan negara-negara industri.
Lebih dari 90 persen usaha sapi potong dikelola oleh peternak rakyat dengan kepemilikan ternak dalam skala kecil. Sistem ini umumnya terintegrasi dengan usaha pertanian sehingga limbah pertanian dimanfaatkan sebagai pakan, sedangkan limbah peternakan dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik.
Hubungan timbal balik tersebut membentuk sistem ekonomi sirkular yang telah lama dipraktikkan masyarakat pedesaan.Ironisnya, praktik yang kini banyak dipromosikan dunia sebagai circular agriculture atau pertanian regeneratif sebenarnya telah lama menjadi bagian dari sistem pertanian Indonesia.
Tantangan kita bukan memulai dari nol, melainkan meningkatkan efisiensi sistem tersebut agar lebih produktif, lebih ramah lingkungan, dan mampu bersaing secara global.Sayangnya, produktivitas peternakan rakyat masih menghadapi berbagai kendala.
Pertambahan bobot badan harian ternak relatif rendah, kualitas pakan belum konsisten, pencatatan performa ternak masih minim, manajemen reproduksi belum optimal, serta pengelolaan limbah belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber energi maupun pupuk organik.
Kondisi tersebut menyebabkan intensitas emisi per kilogram daging menjadi relatif lebih tinggi dibandingkan sistem peternakan modern yang telah menerapkan teknologi berbasis data.
Peternakan Presisi: Bukan Teknologi Mahal, tetapi Keputusan yang TepatDalam konteks inilah konsep Precision Livestock Farming (PLF) atau peternakan presisi menjadi sangat penting.
Masih banyak yang beranggapan bahwa peternakan presisi identik dengan robot, drone, sensor canggih, atau kecerdasan buatan yang mahal. Padahal hakikat peternakan presisi jauh lebih sederhana, yaitu mengambil keputusan berdasarkan data sehingga setiap sumber daya dimanfaatkan secara optimal.
Teknologi hanyalah alat. Esensinya adalah bagaimana peternak mengetahui kondisi ternaknya secara lebih akurat sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih tepat.Pada peternakan rakyat Indonesia, penerapan peternakan presisi tidak selalu membutuhkan investasi besar.
Langkah-langkah sederhana seperti pencatatan bobot badan secara berkala, formulasi pakan berdasarkan kebutuhan nutrisi, penimbangan digital, penggunaan aplikasi telepon pintar untuk pencatatan reproduksi dan kesehatan ternak, hingga pemanfaatan sensor suhu kandang berbiaya rendah sudah merupakan bagian dari peternakan presisi.
Perkembangan teknologi digital semakin memperluas peluang tersebut. Sensor, Internet of Things (IoT), computer vision, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan analisis data kini mampu memantau konsumsi pakan, aktivitas ternak, kondisi kesehatan, hingga lingkungan kandang secara real time.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan, memperbaiki performa pertumbuhan, mengurangi angka kesakitan, sekaligus menurunkan intensitas emisi metana per satuan produk.
Dengan kata lain, semakin efisien seekor sapi mengubah pakan menjadi daging, semakin kecil pula emisi yang dihasilkan untuk setiap kilogram daging yang diproduksi.Green Livestock: Produktif Sekaligus Ramah Lingkungan
Peternakan presisi merupakan fondasi menuju konsep Green Livestock, yaitu sistem peternakan yang mampu menghasilkan produk pangan berkualitas tinggi dengan dampak lingkungan serendah mungkin.
Green Livestock bukan sekadar menurunkan emisi, tetapi membangun sistem produksi yang efisien, menjaga kesejahteraan ternak, memanfaatkan sumber daya secara bijaksana, mengurangi limbah, serta meningkatkan kesejahteraan peternak.
FAO dalam laporan Pathways towards Lower Livestock Emissions menegaskan bahwa peningkatan produktivitas dan efisiensi merupakan strategi mitigasi yang paling efektif untuk menurunkan emisi peternakan.
Artinya, seekor sapi yang dipelihara secara baik, memperoleh nutrisi yang sesuai kebutuhannya, memiliki kesehatan optimal, dan mencapai bobot panen lebih cepat akan menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan ternak yang dipelihara secara tidak efisien.
Konsep Green Livestock dapat diwujudkan melalui berbagai inovasi, antara lain penggunaan hijauan berkualitas tinggi, formulasi ransum yang seimbang, pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan baku pakan, penggunaan aditif pakan alami yang mampu menekan pembentukan metana di dalam rumen, pengolahan limbah menjadi biogas, produksi pupuk organik, pemanfaatan energi terbarukan, hingga integrasi peternakan dengan tanaman pangan maupun perkebunan.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pakan mampu meningkatkan kecernaan nutrien sehingga produksi metana per satuan produk menjadi lebih rendah. Demikian pula penggunaan aditif pakan tertentu, seleksi genetik, perbaikan mikrobioma rumen, dan pengelolaan kesehatan ternak secara presisi terbukti berpotensi menurunkan intensitas emisi tanpa mengurangi produktivitas.
Indonesia Memiliki Peluang BesarBagi Indonesia, transformasi menuju Green Livestock memiliki arti yang sangat strategis. Di satu sisi, Indonesia harus memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan.
Di sisi lain, Indonesia juga berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sesuai target Nationally Determined Contribution (NDC).
Kedua tujuan tersebut sebenarnya tidak saling bertentangan.Justru peningkatan produktivitas peternakan rakyat merupakan jalan tengah yang paling rasional. Dengan mempercepat pertumbuhan ternak, memperbaiki efisiensi pakan, menekan angka kematian, dan meningkatkan kualitas manajemen, umur pemeliharaan dapat dipersingkat sehingga total emisi yang dihasilkan sepanjang siklus produksi menjadi lebih rendah.
Pendekatan ini juga memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi peternak. Efisiensi pakan meningkatkan keuntungan usaha, kesehatan ternak mengurangi biaya pengobatan, sementara pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik maupun biogas menciptakan sumber pendapatan tambahan.
Dengan demikian, pengurangan emisi tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing usaha peternakan.
Perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, industri pakan, perusahaan teknologi, serta peternak perlu membangun kolaborasi yang lebih erat. Riset mengenai nutrisi presisi, pemanfaatan kecerdasan buatan, sistem pemantauan digital, inventarisasi emisi berbasis IPCC Tier 2, hingga pengembangan model Green Livestock berbasis sumber daya lokal perlu terus diperkuat agar Indonesia memiliki solusi yang sesuai dengan karakteristik peternakan tropis.
Mengubah NarasiSudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap sektor peternakan. Narasi yang dibutuhkan bukanlah “mengurangi peternakan”, melainkan memperbaiki peternakan.
Menyederhanakan solusi perubahan iklim hanya dengan mengurangi konsumsi daging merupakan pendekatan yang kurang memadai, terutama bagi negara berkembang yang masih menghadapi tantangan pemenuhan gizi masyarakat.
Protein hewani tetap menjadi sumber asam amino esensial, vitamin B12, zat besi, dan seng yang berperan penting dalam pertumbuhan anak, kesehatan ibu hamil, serta pencegahan stunting. Di sisi lain, jutaan rumah tangga di Indonesia menggantungkan penghidupan mereka pada usaha peternakan.Karena itu, yang perlu didorong adalah transformasi menuju sistem peternakan yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan.
Peternakan presisi dan Green Livestock menunjukkan bahwa produktivitas dan keberlanjutan bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan. Justru melalui inovasi, digitalisasi, dan manajemen berbasis data, Indonesia memiliki peluang besar membangun sistem peternakan yang mampu menyediakan pangan bergizi, meningkatkan kesejahteraan peternak, sekaligus berkontribusi nyata terhadap target penurunan emisi nasional.
Pada akhirnya, perubahan iklim memang harus dihadapi secara serius. Namun, solusi tidak boleh dibangun di atas stigma yang menyederhanakan persoalan. Peternakan bukan musuh lingkungan apabila dikelola secara ilmiah, efisien, dan bertanggung jawab.
Masa depan bukan ditentukan oleh seberapa sedikit kita memproduksi pangan, melainkan oleh seberapa cerdas kita memproduksinya. Di sinilah peternakan presisi dan Green Livestock menjadi jawaban: bukan sekadar menjaga produktivitas, tetapi juga memastikan bahwa ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan demi masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan. ***