Minggu, 30 Agu 2026
Minggu, 30 Agu 2026 Kat : Berita

Unila Dorong Warga Rejomulyo Kembangkan Tanaman Obat Jadi Produk Bernilai Ekonomi

LAMPUNG SELATAN — Potensi tanaman obat di Desa Rejomulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, terus didorong agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

5 menit baca
Dilihat : 1x

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Institusi Universitas Lampung (Unila) memberikan edukasi dan praktik pengolahan tanaman obat kepada masyarakat Desa Rejomulyo, 29–30 Agustus 2026.

Kegiatan bertajuk “Penerapan dan Edukasi Pengeringan Higienis untuk Retensi Senyawa Aktif Tanaman Obat Desa Rejomulyo Sesuai Standar Mutu Industri Kafe” tersebut melibatkan UPA Laboratorium Terpadu FMIPA Universitas Lampung.

Tim pengabdian terdiri atas Dr. Agung Abadi Kiswandono, M.Sc. selaku ketua tim, Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si., Dr. Rinawati, S.Si., M.Si., serta Wayan Gracias, S.Pd., M.Sc.Kegiatan dibuka Sekretaris Desa Rejomulyo Hartono, S.T. Ia mengapresiasi kehadiran tim Unila yang memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan kepada masyarakat dalam memanfaatkan potensi tanaman obat desa.

Hartono berharap teknologi dan pengetahuan yang diperkenalkan dapat diterapkan secara berkelanjutan, terutama oleh kelompok perempuan dan pelaku usaha desa.

Menurutnya, pengolahan yang lebih baik diharapkan mampu meningkatkan mutu sekaligus nilai ekonomi produk berbahan tanaman obat.

Kegiatan tersebut diikuti masyarakat Desa Rejomulyo, khususnya kelompok perempuan dan pelaku usaha pengolahan tanaman obat.

Desa Rejomulyo diketahui memiliki beragam tanaman obat keluarga, seperti jahe, kunyit, temulawak, asam, serai, dan pandan. Selama ini, sebagian besar komoditas tersebut masih dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga atau diolah secara sederhana.

Padahal, dengan teknologi pengolahan yang tepat, tanaman obat tersebut dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Di antaranya serbuk herbal siap seduh maupun minuman herbal siap konsumsi.

Pengeringan Jadi Tahapan PentingSalah satu materi utama yang diberikan adalah teknik pengeringan higienis.

Tim Unila menjelaskan, pengeringan bukan hanya bertujuan mengurangi kadar air bahan. Proses tersebut juga berpengaruh terhadap warna, aroma, rasa, daya simpan, keamanan, serta kemampuan bahan herbal dalam mempertahankan senyawa aktif.

Suhu yang terlalu tinggi, waktu pengeringan terlalu lama, maupun tempat pengeringan yang tidak higienis dapat menurunkan kualitas bahan herbal.Karena itu, proses produksi harus dilakukan secara terkendali. Mulai dari pemilihan bahan baku, pencucian menggunakan air bersih, perajangan dengan ukuran relatif seragam, pengeringan, penghalusan, formulasi, hingga pengemasan.

Kebersihan pekerja, peralatan, dan lingkungan pengolahan juga menjadi bagian penting dalam menghasilkan produk jamu yang aman dan berkualitas.

Selain teknik pengeringan, peserta mendapatkan edukasi mengenai sanitasi peralatan, pencegahan kontaminasi, konsistensi formulasi, pemilihan kemasan, pelabelan, hingga penyimpanan bahan herbal.

Peserta juga diperkenalkan pada pentingnya standardisasi mutu agar produk yang dihasilkan lebih mudah diterima konsumen dan memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas.

Dalam sesi praktik, masyarakat diajak mengolah jahe, kunyit, temulawak, dan bahan herbal lainnya menjadi produk serbuk.Produk hasil praktik kemudian dikemas menggunakan wadah tertutup dan dilengkapi label. Langkah tersebut dilakukan agar produk lebih bersih, menarik, mudah dikenali, sekaligus memiliki identitas yang kuat.

Dorong Diversifikasi ProdukSelain pengolahan bahan herbal, Tim Unila juga memberikan materi pengembangan usaha. Salah satu produk yang menjadi fokus adalah jamu kunyit asam.Produk tersebut dikembangkan dalam dua bentuk, yakni wedang kunyit asam siap minum dan jamu kunyit asam serbuk siap seduh.

Diversifikasi itu dinilai dapat membuka peluang pasar yang berbeda. Produk siap minum dapat menyasar konsumen lokal, sedangkan produk serbuk memiliki peluang dipasarkan lebih luas karena lebih praktis dan memiliki daya simpan berbeda.

Ketua Tim Pengabdian Unila Dr. Agung Abadi Kiswandono, M.Sc. mengatakan, penerapan teknologi pengeringan higienis diharapkan mampu membantu masyarakat mempertahankan mutu bahan herbal sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.

“Jamu berkualitas dimulai dari bahan yang baik, proses yang higienis, dan tempat pengolahan yang bersih. Dari proses yang baik akan lahir produk jamu yang aman, berkualitas, dan memiliki daya saing,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si. menekankan pentingnya pengelolaan usaha dalam pengembangan produk herbal.

Menurutnya, produk berkualitas harus dibarengi kemampuan pelaku usaha dalam menghitung biaya produksi, harga pokok produksi, menentukan harga jual, memilih kemasan, menentukan segmentasi pasar, hingga menyusun strategi pemasaran.

Dalam simulasi usaha, satu kali produksi wedang kunyit asam diperkirakan menghasilkan sekitar 2,5 liter atau 10 botol berukuran 250 mililiter.

Sedangkan satu kilogram bubuk jamu dapat dikemas menjadi sekitar 40 sachet berukuran 25 gram.

Angka tersebut merupakan simulasi awal yang masih perlu disesuaikan dengan harga bahan baku, biaya kemasan, kapasitas produksi, serta permintaan pasar di wilayah setempat.Kegiatan berlangsung secara partisipatif melalui penyampaian materi, diskusi, demonstrasi, hingga praktik pengolahan.

Peserta juga aktif menyampaikan berbagai kendala yang selama ini dihadapi dalam pengembangan usaha herbal. Mulai dari ketidakseragaman mutu bahan, teknik pengeringan, daya simpan, pengemasan, penentuan harga jual, hingga pemasaran.

Melalui kegiatan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unila berharap masyarakat Desa Rejomulyo dapat menerapkan pengolahan tanaman obat secara lebih higienis dan terstandar.

Pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi diterapkan dalam kegiatan produksi sehari-hari dan dikembangkan menjadi usaha bersama berbasis potensi lokal.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kebutuhan masyarakat serta pengembangan ekonomi desa.

Ke depan, pengembangan produk herbal Rejomulyo masih membutuhkan pendampingan lanjutan. Di antaranya penyempurnaan formulasi, penyusunan standar operasional produksi, desain kemasan, perhitungan usaha, pengurusan perizinan dan sertifikasi, penguatan kelembagaan kelompok, serta perluasan pemasaran.

Dengan pendampingan yang berkelanjutan, produk herbal berbasis potensi lokal Desa Rejomulyo diharapkan mampu tumbuh menjadi produk unggulan desa yang aman, bermutu, dan memiliki daya saing. (*)

Tuliskan komtar mu disini
Berita Terkait...

Berikan sebuah komentar