Rabu, 14 Jan 2026
Rabu, 7 Jan 2026 Kat : Berita

Padi Lampung Melesat di 2025, Produksi Naik 14 Persen Capai 3,2 Juta Ton

Produksi padi Provinsi Lampung pada 2025 mengalami peningkatan signifikan.

2 menit baca
Dilihat : 30x

Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung mencatat produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 3,2 juta ton.

Kepala Dinas KPTPH Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, mengatakan capaian tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 2,79 juta ton.

“Produksi gabah kering giling padi Lampung tahun 2025 berada di angka 3,2 juta ton. Dibandingkan 2024 yang sekitar 2,79 juta ton, berarti ada kenaikan kurang lebih 400 ribu ton atau sekitar 14 persen,” ujar Elvira.

Ia menjelaskan, memasuki Januari 2026, sebagian besar petani di Lampung telah memasuki masa panen. Hanya sebagian kecil wilayah yang belum panen, yakni Kabupaten Lampung Tengah dan Kota Metro.

“Untuk kabupaten lain, rata-rata sudah tanam. Posisi sekarang banyak tanaman yang masih berdiri atau standing crop, termasuk di Kabupaten Pesawaran,” jelasnya.

Elvira menyebut, di Kabupaten Pesawaran terdapat sekitar 60 hektare hamparan padi di Desa Kutoarjo yang menggunakan pupuk organik cair atau pupuk hayati cair dari program Gubernur Lampung. Penggunaan pupuk tersebut ditujukan untuk menghasilkan padi organik.

“Ini bagian dari program Pak Gubernur. Harapannya nanti hasilnya adalah padi organik,” katanya.

Lebih lanjut, Elvira mengungkapkan bahwa pada akhir 2025, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian akan mengumumkan capaian swasembada pangan nasional. Pengumuman tersebut akan dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia bersamaan dengan panen raya di Karawang.

“Bapak Gubernur Lampung bersama Forkopimda Provinsi, Bupati Pesawaran, petani, dan penyuluh akan mengikuti secara daring acara panen raya sekaligus pengumuman swasembada pangan nasional,” ujarnya.

Selain padi, produksi komoditas pertanian lain di Lampung pada 2025 juga mengalami peningkatan, salah satunya jagung. Kenaikan produksi jagung didorong oleh alih komoditas dari singkong ke jagung dan padi.

“Jagung juga meningkat karena banyak petani yang beralih dari singkong. Namun alih komoditas terbanyak memang ke padi, dan itu terbukti dari kenaikan produksi yang mencapai sekitar 400 ribu ton,” pungkas Elvira. (*)

Tuliskan komtar mu disini
Berita Terkait...

Berikan sebuah komentar